Berbagai hal yang di hadapi di dunia kampus dan pemikiran-pemikiran stategis ,pemberontakan atas pengekangan, perlawanan terhadap pembodohan masal yang terstruktur.Bukan radikal atau reformis tapi hanya membahasakan apa yang dilihat dan apa yang terpikirkan....
Saturday, June 09, 2007
KTSP Moga Aja Bukan KaTe SiaPe!
oleh: David Ricardo

Banyak hal yang berkelumit prokontra kebijakan pendidikan Indonesia. Begitu juga dalam peluncuran KTSP yang masih menyisakan sebuah paradoksal, yakni keharusan menempuh ujian nasional. Meski dihadang ujian nasional, toh ada semangat pembaruan terhadap kurikulum sebelumnya. Tapi untuk kali ini saya tidak akan menyinggung keterkaitan antara KTSP dengan UN, tapi lebih ke kendala penerapan KTSP itu sendidiri
di lapangan.

Jika dicermati, sebetulnya tujuan disusunnya KTSP sangat tepat. Betapa tidak, kurikulum yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) itu kelak menuntut pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori dan konsep pengetahuan, tetapi juga penguasaan kemampuan praktik. maka tiap-tiap sekolah bisa mengembangkan dirinya sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, karena tidak semua sekolah membutuhkan hal sama. yang jadi masalah menurut saya adalah setelah ada kebijakan tersebut apakah ada orang atau pihak dari sekolahnya tersebut yang mampu membuat silabus ataupun menyusun kurikulum secara benar, kalau diserahkan ke Guru menurut saya itu tidak benar karena belum tentu guru tersebut mengerti dan memahami mengenai pembuatan silabus ini. selama ini guru telah terbiasa menerima produk kurilulum yang jadi dari pemerintah.

Penerapan KTSP di sekolah-sekolah kelak membuat pembelajaran di kelas kian bermutu. Namun, pada kenyataannya, pelaksanaan KTSP menemui kendala yang cukup serius. Yaitu, minim dan tidak meratanya sarana dan prasarana pendidikan pada tiap sekolah antara satu daerah dengan daerah lain.

Implementasi KTSP seharusnya bisa mengubah kultur sekolah, dari “sekolah yang memenjara” menjadi “sekolah yang menyenangkan.” Perubahan tersebut tentunya perlu didukung semua pihak, terutama guru dan orang tua. Bagaimana pun, pembelajaran akan menjadi berkualitas jika ditunjang tiga faktor: guru, infratruktur pendidikan, dan iklim pendukung belajar. Tak hanya cukup “utak-atik” kurikulum setiap ganti menteri.
Intinya, kreativitas dan ide-ide baru guru yang ditunggu. Setelah menyusun silabus, jangan guru berhenti berimprovisasi. Sebaliknya, guru harus mulai bertanya kepada siswa mengenai metode pembelajaran yang mereka sukai. Pasalnya, sebagus apapun kurikum yang disusun, tak bakal berhasil apabila penyampaian tetap monoton dan tidak interaktif.

Namun demikian, bagi sekolah yang merasa belum siap tidak usah memaksakan diri untuk menerapkan KTSP.

Semoga.....!!!

Labels:

 
posted by Dj_Rono at 9:51 AM | Permalink |


0 Comments: